indah

indah
pantai

Minggu, 01 Januari 2012

Bidang ilmu dan kajian dasar-dasar pendidikan


BAB I
PENDAHULUAN

Foundation of education merujuk pada bidang kajian yang tersusun secara luas yang mendapatkana karakteristik dan teori-teori dasarnya dari sejumlah disiplin ilmu dan bidang-bidang kajian.
Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan.
Berdasarkan undang-undang Sisdiknas No.20 tahun 2003 Bab I, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Menurut William F (tanpa tahun) Pendidikan harus dilihat di dalam cakupan pengertian yang luas. Pendidikan juga bukan merupakan suatu proses yang netral sehingga terbebas dari nilai-nilai dan Ideologi.
Kosasih Djahiri (1980 : 3) mengatakan bahwa Pendidikan adalah merupakan upaya yang terorganisir, berencana dan berlangsung kontinyu (terus menerus sepanjang hayat) kearah membina manusia/anak didik menjadi insan paripurna, dewasa dan berbudaya (civilized).
Dari pengertian tersebut bahwa pendidikan merupakan upaya yang terorganisir memiliki makna bahwa pendidikan tersebut dilakukan oleh usaha sadar manusia dengan dasar dan tujuan yang jelas, ada tahapannya dan ada komitmen bersama didalam proses pendidikan itu dan dilandasi dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang berkembang dari waktu ke waktu.



 BAB II
PEMBAHASAN

A.    SEJARAH SINGKAT PENDIDIKAN
1.   PENDIDIKAN PADA ZAMAN PURBA/KUNO 

Pendidikan adalah usaha manusia untuk kepentingan manusia. Jadi pada saat manusia itu ada dan masih ada, pendidikan itu telah dan masih ada pula. Pada kenyataannya dapat kita telaah bahwa praktek pendidikan dari zaman ke zaman mempunyai garis persamaan. Garis persamaan atau benang merah pendidikan itu ialah :
a)      Pendidikan adalah bagian dari kebudayaan yang tidak dapat dipisahkan.
b)      Pendidikan merupakan kegiatan yang bersifat universal.
c)      Praktek pelaksanaan pendidikan memiliki segi-segi yang umum sekaligus memiliki keunikan (ke-khasan) berkaitan dengan pandangan hidup masing-masing bangsa.

a.       Mesir
Mesir purba telah mengenal peradaban dan kebudayaan tinggi. Ini terbukti dengan telah dikenalnya tulisan dengan huruf heiroglyph (tulisan suci), telah kenal kalender (penanggalan) dengan pembagian 12 bulan tiap tahun, telah mengenal irigasi dan sebagainya.
b.      India
Secara ketat/tegas India membagi masyarakat dengan kasta/tingkatan. Dalam kehidupan agama Hindu di India terkenal ada 4 kasta, yaitu; 1) kasta Brahmana, 2) kasta Ksatria, 3) kasta Waisya, 4) kasta Sudra (Syudra).
Hidup di India bukan ditentukan oleh kepercayaan kepada dewa, tetapi ditentukan oleh tingkatan atau kasta tadi. Tujuan akhir hidup adalah mencapai Nirwana. Ciri-ciri pendidikan di India adalah :
1.      Pengajaran agama di nomor satukan.
2.      Pendidikan diselenggarakan oleh kasta Brahmana.
3.      Tujuan pendidikan; mencapai kebahagian abadi (Nirwana).

c.       Cina
Cina memiliki keunikan dalam hal kebudayaan dan pendidikan. Artinya dibandingkan dengan negara-negara timur lainnya. Cina memiliki sejarah tersendiri. Kebudayaan Cina adalab asli Cina tidak terbaur atau tercampur dengan kebudayaan dari luar. Ciri-ciri pendidikannya antara lain:
1.      Persoalan pendidikan tidak ada kaitannya dengan agama.
2.      Pendidikan diselenggarakan oleh keluarga dan negara.
3.      Tujuan pendidikan adalah mendidik orang berhati mulia dan menghormati sesama.

d.      Yunani
Yunani kuno terbagi menjadi Sparta dan Athena. Orang-orang Sparta mementingkan pembentukan jiwa patriotik yang kuat dan gagah berani. Tujuan pendidikan Sparta adalah membentuk warga negara yang siap membela negara (membentuk tentara yang gagah berani)
Ciri-ciri pendidikannya adalah :
1.      Pendikan diperuntukkan hanya bagi warga negara yang merdeka (hukan budak).
2.      Anak-anak cacat atau lemah dimusnahkan.
3.      Lebih mengutamakan pendidikan jasmani.
4.      Anak-anak yang telah mencapai umur 7 tabun diasramakan.
Sedangkan Athena lebih mernentlngkan kesehatan jasmani dan rohani serta hidup harmonis.
  
e.       Romawi
Pada mulanya tujuan pendidikan Rornawi adalah terbentuknya manusia-manusia yang siap berkorban membela tanah air. Inti pelajaran adalah mempersiapkan warga negara menjadi tentara.Penyelenggara pendidikan adalah di rumah-rumah keluarga bangsawan. Materi pelajarannya meliputi mebaca, menulis, dan berhitung. Pada perkembangan selanjutnya Romawi terbawa oleh arus aliran Epicurisme dan aliran Stoa. Aliran Epicurisme berpendapat hahwa kebahagian akan terwujud manakala manusia menyatu dengan alam.  Aliran Stoa berpendapat bahwa tujuan hidup adalah mencapai kebajikan. Kebajikan itu akan terwujud apabila manusia dapat menyesuai kan din dengan alamnya, karena manusia adalah bagian dari alam. Sedangkan alam itu sendiri dikuasai oleb budi Ilahi.
    
2.   PENDIDIKAN PADA ABAD PERTENGAHAN
            Ciri-ciri utama dari pendidikan pada abad pertengahan adalah :
1.      Seluruh pusat pendidikan bersatu untuk mewujudkan cita-cita yang telah ditetapkan oleb gerreja Roma Katolik.
2.      Gereja berusaha untuk memperbaiki kehidupan rakyat.
3.      Mendirikan sekolah-sekolah.

Abad 19 dunia mengalami percepatan (akselerasi) di segala lapangan hidup karena dilhami revolusi Perancis dan revolusi industri. Dengan meluasnya cita-cita pencerahan yang mengumandangk semboyan manusia dilahirkan bebas dan memiliki derajat yang sama, rnereka (kasta ketiga, di luar kaum agama dan bangsawan) menuntut egality fraternity dan liberty. Mereka menuntut penyelenggaraan pendidikan jangan hanya di peruntukkan bagi bangsawan dan kaum agamis saja. Orang mulai menyadari bahwa sekolah sebagai suatu lembaga penting untuk mencapai kemajuan dalam segala lapangan hidup. Kemajuan cara berpikir melalui jasa ilmu dan pengetahuan membawa perkembangan di bidang industri. Mekanisme di bidang produksi mengganti tangan-tangan manusia. Jadi di bidang industri pun mengalami lompatan percepatan kemajuan. Jadi sangat masuk akallah apabila di budang pendidikan dan pengajaran pada abad ke-19 itu mengalami perkembangan pula.

3.   PENDIDIKAN DI INDONESIA
Berikut keadaan pendidikan di Indonesia sejak zaman purba hingga kini. Inti pembicaraan sekilas pendidikan di Indonesia meliputi pendidikan zaman purba, zaman pengaruh Islam, dan pendidikan zaman penjajahan.
Dasar pendidikan masa Hindu Budha adalah filsafat Hindu Budha. Tujuan pendidikan bahwa tujuan hidup adalah untuk mencapai Nirwana. Manusia yang dapat mencapai Nirwana adalah manusia sempurna. Sistem penyelenggaraan pendidikan adalah sistem guru-kuladan berlangsung dalam asrama.
Bersamaan masuknya agama Islam ke Indonesia masuk pula kebudayaannya. Pengaruh kebudayaan Islam meliputi semua segi kehidupan, termasuk pendidikan. Tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia muslim yang sholeh (berakhlak) yang baik. Ada dua lembaga pendidikan penting pada penyebaran agama Islam yakni : langgar dan pesantren disusul kemudian adanya madrasah. Pendidikan agama Islam tidak terbatas, siapapun boleh mengikuti lembaga pendidikan Islam, sifat pendidikan demokratis dan pengajaran unuk rakyat. Di suatu tempat seperti di Sumatera Barat tidak ada pemisahan antara langgar dan pesantren, di sini sekolah agama Islam disebut “surau”. Kemudian sekolah-sekolah Islam berkembang dan mendirikan bangunan sekolah yang disebut madrasah.
Pendidikan pada masa penjajahan kurang dapat dirasakan oleh para penduduk pribumi (bumi petera). Pendidikan pada masa penjajahan diabaikan demi kepentingan pemerintah (penjajah). Tujuan utama pendidikan pada masa penjajahan Belanda adalah : 1) mencetak tenaga kerja murah yang siap mengabdi kepada pemerintah (kepentingan penjajah Belanda), 2) untuk tetap mempertahankan kelangsungan penjajah Belanda di Indonesia.
Pada masa penjajahan Jepang tujuan pendidikan yang dilaksanakan adalah: 1) untuk mendapat tenaga kerja rendahan (murah) dan 2) untuk membentuk tentara yang siap melawan sekutu.
Menyadari keadaan pendidikan pada masa penjajahan yang sangat merendahkan martabat bangsa sendiri, maka muncul tokoh-tokoh masyarakat yang berkeinginan untuk mendirikan lembaga pendidikan formal (sekolah). Tokoh-tokoh antara lain Ki Hajar Dewantara, KH. Achmad Dahlan dan Moch. Syafei.
 Sadar akan kebodohan dan keterbelakangan sebagian besar warga pribumi akibat tidak mendapat perhatian dari penjajah maka Muhammdiyah bangkit dengan cita-cita mempertinggi dan memperluas pendidikan agama Islam secara modern dengan tujuan memperkuat dan memperteguh keyakinan akan kebenaran ajaran Islam. Taman siswa dengan pendirinya Ki Hadjar Dewantara mendirikan sekolah sebagai usaha mencapai kemerdekaan bangsa lewat pendidikan.
Moh. Syafei di Sumatera Barat mendirikan Perguruan Ruang Pendidik INS Kayutanam, ia menantang pendidikan kolonial yang verbalistik-intelektualistik. Sekolah INS Kayutanam memakai konsep John Dewey yaitu; “learning by doing”. Jadi INS Kayutanam mementingkan keterampilan bekerja dari pada keterampilan berfikir murni, tetapi bukan berarti tidak rasional, justru INS mementingkan cara berfikir yang akaliah (rasional). Konsep ini tampak pada tujuan pendidikan yaitu : 1) mendidik anak untuk berfikir rasional, 2) mendidik anak bekerja secara teratur dan bersungguh-sungguh, 3) membentuk anak-anak menjadi manusia yang berwatak dan 4) menanamkan perasaan persatuan.

B.     Bidang ilmu pendidilkan
1.      Filsafat pendidikan
Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.
2.      Sosiologi pendidikan
            Dalam buku Sosiologi Pengantar yang ditulis oleh Soerjono Soekanto, mengatakan bahwa sosiologi adalah ilmu sosial yang murni, abstrak, rasional, dan empiris, bersifat umum, serta berusaha mencari pengertian umum. Sedangkan pengertian sosiologi pendidikan Menurut para ahli adalah sebagai berikut:
- F. G. Robbins, Sosiologi pendidikan adalah sosiologi khusus yang mengkaji strukutur dan dinamika proses pendidikan.
- H. P. Fairchild dalam bukunya “Dictionary of sociology” dikatakan bahwa sosiologi pendidikan adalah sosiologi yang di terapkan untuk memecahkan masalah pendidikan yang fundamental.
- Charles A.Ellwood, Sosiologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari aau menuju untuk melahirkan maksud hubungan semua pokok-pokok masalah antara roses pendidikan dan proses sosial.
- Prof. Drs. Nasution M. A., Sosiologi pendidikan adalah ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk mengembangkan kepribadian individu untuk lebih baik. Dari definisi tersebut dapat di simpulkan bahwa Sosiologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari seluruh aspek pendidikan baik struktur, dinamika, masalah masalah pendidikan atau aspek-aspek lainya secara mendalam melalui analisis atau pendekatan sosiologis.
3.      Antropologi pendidikan
Definisi antropologi menurut para ahli yaitu:
a.       Wiliam A. Haviland, Antropologi adalah studi tentang manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusi adan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.
b.      David Hunter, Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.
c.       Koentjaraningrat, Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan. Dari definisi-definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana
Antropologi, yaitu ssebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Secara umum Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya dan untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia. Sedangkan Antropologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami dan memecahkan masalah-masalah jpendidikan dengan analisis berdasarkan konsep-konsep dan pendekatan Antropologi.



4.      Agama
Pembentukan karakter dan mental merupakan bagian penting dari proses pendidikan. Agama yang menjadi sistem kontrol dalam pembentukan karakter dan mental peserta didik hanya ditempatkan pada posisi yang sangat minimal, dan tidak menjadi landasan dari seluruh aspek.

5.      Ekonomi pendidikan
            Bidang ilmu yang mempelajari betapa pentingnya peranan ekonomi dalam pendidikan. Serta hubungan timbal balik antara pendidikan dan ekonomi. Globalisasi ekonomi yang melanda dunia, otomatis mempengaruhi hampir semua negara di dunia, termasuk Indonesia. Alasannya sederhana, yaitu karena takut digulung dan dihempaskan oleh gelombang globalisasi ekonomi dunia. Perkembangan ekonomi berpengaruh pula dalam bidang pendidikan. Cukup banyak orang kaya sudah mau secara sukarela menjadi bapak angkat agar anak-anak dari orang tidak mampu bisa bersekolah.
            Perkembangan lain yang menggembirakan di bidang pendidikan adalah terlaksananya sistem ganda dalam pendidikan. Sistem ini bisa berlangsung pada sejumlah pendidikan, yaitu kerja sama antara sekolah dengan pihak usahawan dalam proses belajar mengajar para siswa adalah berkat kesadaran para pemimpin perusahaan atau industri akan pentingnya pendidikan.

6.      Kajian pendidikan perbandingan
Merupakan disiplin ilmu yang membahas disiplin ilmu pendidikan dengan kajian-kajian antar lintas disiplin ilmu baik yang berkembang didalam negri maupun di luar negri dan terapi-terapi konsep pendidikan bagi perbaikan dan pengembangan pendidikan.
7.      Kajian-kajian kebijaksanaan pendidikan
Berfungsi mengkaji kebijakan-kebijakan yang di ambil dalam system pendiddikan agar terjadi keselarasan antara system pendidikan dengan kemampuan peserta didik maupun tenaga kependidikan.


BAB III
KESIMPULAN
Pendidikan adalah usaha manusia untuk kepentingan manusia. Jadi pada saat manusia itu ada dan masih ada, pendidikan itu telah dan masih ada pula. Pada kenyataannya dapat kita telaah bahwa praktek pendidikan dari zaman ke zaman mempunyai garis persamaan.
Pendidikan sudah dikenal berabad-abad sebelumnya semenjak zaman kuno dan berkembang sangat pesa, hingga sekararang ini.
Garis persamaan atau benang merah pendidikan dari masa ke masa  ialah :
1.      Pendidikan adalah bagian dari kebudayaan yang tidak dapat dipisahkan.
2.      Pendidikan merupakan kegiatan yang bersifat universal.
3.      Praktek pelaksanaan pendidikan memiliki segi-segi yang umum sekaligus memiliki keunikan (ke-khasan) berkaitan dengan pandangan hidup masing-masing bangsa.

            Beberapa bidang kajian ilmu yang melandasi munculnya pendidikan terdiri dari beberapa disiplin ilmu antara lain Filsafat pendidikan, Sosiologi pendidikan, Antropologi pendidikan, Agama, Ekonomi pendidikan, Kajian pendidikan perbandingan, Kajian-kajian kebijaksanaan pendidikan

DAFTAR PUSTAKA

Chalijah, Hasan(1994). Kajian Pendidikan Perbandingan. Medan.
Manan, imran, Antropologi Pendidikan. Proyek pengembangan tenaga kependidikan. Jakarta. 1989.
Manan, imran, Dasar-dasar social budaya pendidikan. Proyek pengembangan tenaga kependidikan. Jakarta. 1989.
Sagala, Syaiful (2000). Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung. Alfabeta
Soemanto, Wasty (1983). Psikologi pendidikan. Malang. Rineka cipta


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar